Jumat, 08 Mei 2009

kebenaran.,.,?

seminggu yang lalu, tepatnya hari rabu ketika itu tempatku mengadakan binrohtal (pembinaan rohani dan mental), dan pembicaranya mengangkat tema yang unik, jadi mungkin disini akan aku bagi kepada kawan semua,

suatu waktu dibawah pohon yang rindang berteduhlah dua murid, doler terkenal dikalangan semua murid paling ngeyel, keras kepala, tapi agak bodo, dan satunya lagi si dedi, murid ini menjadi kesayangan gurunya karena agak sedikit pandai,
alkisah doler dan dedi bercerita tentang pengalaman masing-masing, sampe pada suatu saat ada perdebatan yang tidak bisa dielakan lagi,

doler : mas, mari kita tebakan, mas kan yang lebih lama dan lebih pandai disini,

dedi : ukey, sapa takut, adek saja yang memberi soal,

doler : tapi kalo ternyata saya yang benar gimana mas?
mas bersedia gak melepas topi yang mas kenakan,

dedi : (sambil berpikir sejenak, topi kan merupakan kehormatan yang diberikan gurunya, masak mau di lepas) ehm,.,.,

doler : gimana mas, takut ya,

dedi : tidak lah, bersedia aku dek, (bertambah keyakinan dedi ia akan bisa menjawab pertanyaan yang diajukan doler)
eit , tunggu dulu, kalau ternyata adek yang salah bagaimana (sambil tersenyum, dan menggerakkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah)
hayo,.,.

doler : akan kupenggal leherku (jawabnya secara cepat, tegas dan meyakinkan)

dedi : lalu pertanyaannya apa to?

doler : gini mas, lima dikalikan tiga ada berapa mas?

dedi : (terbengong) cuma gitu dek , itu seh gampang, semua orang juga tahu itu, lima belas dek,

doler : salah mas, yang benar adalah tujuh belas,

dedi : kamu yang salah,

doler : gak bisa, tetap mas yang salah, ayo cepet buka topi mas,

dedi : ugak mau ah, aku yang bener kok,

sampe beberapa saat kedua murid itu masih beradu argumen dan membenarkan jawaban masing, semakin lama mereka bertengkar semakin keras. akhirnya mereka sepakat untuk mencari jawaban kepada gurunya yang di kenal sebagai orang bijaksana (sufi) di lingkungannya, dijalan pun keduanya masih terlibat adu argumen membenarkan masing-masing jawaban. dan sampailah mereka dikediaman gurunya,
setelah mereka berdua masuk dan menceritakan asal mula perdebatan mereka mulai dari doler yang berani nekat memenggal kepalanya sendiri bila jawabannya salah, dan dedi yang merelakan kebanggaannya melepas topi yang selama ini menjadi simbol murid yang cerdas dan pandai,

doler : bagaimana sang prabu, siapakan yang benar guru?
(doler yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari gurunya)

bersambung
salam .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar